GELAR TEKNOLOGI TEPAT GUNA NASIONAL XXI

Haryo Bimo Kusumo

Haryo Bimo Kusumo

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Dalam rangka mematangkan dan memantapkan kesiapan Bengkulu sebagai tuan rumah Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional XXI 2019, Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, sambangi Menteri Desa-Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia, Eko Putro Sandjojo, di Jakarta, 9 September 2019.

 

Saat bertemu Gubernur Bengkulu, Menteri Eko mengapresiasi persiapan yang cukup matang dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, dalam menyambut acara yang akan dihadiri ribuan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia tersebut.

Gubernur Rohidin menjelaskan, Bengkulu sebagai tuan rumah Gelar TTG Nasional XXI Tahun 2019 telah mempersiapkan dengan baik. Menurutnya, terkait persiapan hotel dan penginapan tidak hanya melibatkan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), tapi juga melibatkan masyarakat dan stakeholder lain, diantaranya melibatkan hampir seluruh OPD yang ada di bawah Pemerintah Provinsi Bengkulu.

"Hasil hitungan kita, peserta kurang lebih 5 ribuan, dan Insya Allah bisa kita fasilitasi dengan baik," ujar Gubernur.

 



Selanjutnya, terkait penerbangan, Gubernur Rohidin Mersyah berharap ada penambahan jadwal penerbangan dari Jakarta.

"Walaupun jalur penerbangan sudah kita buka ke berbagai daerah, kami berharap ada penambahan jadwal penerbangan dari Jakarta, paling tidak pesawat berbadan besar bisa kembali masuk pagi dan sore, dan menambah satu flight lagi," tambah Gubernur Rohidin. 

"Dalam kesempatan ini, kami juga meminta kepastian bapak Presiden bisa hadir dan membuka acara, sekaligus ada beberapa agenda yang dapat ditindaklanjuti terkait penyerahan sertifikat kampung nelayan dan ground breaking tol Bengkulu, ini juga harus segera kita siapkan. Dalam waktu dekat, pak Menteri Desa PDTT akan bertemu langsung dengan Presiden terkait persiapan tersebut," tegas Gubernur Rohidin.

Terkait kemasan acara, Gubernur Rohidin menegaskan penyelenggaraan Gelar TTG Nasional XXI Tahun 2019 di Bengkulu berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

"Dari sisi tema, ini betul-betul kuat dalam rangka mengangkat temuan teknologi desa. Teknologi yang ditemukan dari beberapa provinsi, mulai dari tingkat desa akan kita tonjolkan pada Gelar TTG Nasional tahun ini di Bengkulu," tambah Gubernur Rohidin meyakinkan.

Sementara itu pada kesempatan lain, Sales & service Office Manager PT. Garuda Indonesia (Persero) TBK Kantor Cabang Bengkulu, Bernandus. M. Mapram IM mengatakan

"Mulai per tanggal 21 September 2019 hingga tahun depan, untuk rute CGK - BKS (Bandara Soekarno Hatta - Bandara Fatmawati) maupun sebaliknya, Garuda Indonesia beroperasi kembali dengan pesawat besar B738-NG dengan kapasitas 174 tempat duduk. untuk rute Bandara Soekarno hatta-Bandara fatmawati terbang pukul 06.50 WIB dan rute Bandara Fatmawati-Bandara Soekarno Hatta terbang pada pukul 08.50 WIB." demikian ujar pria yang akrab dengan sapaan Benny ini.

Untuk diketahui bersama bahwa peserta yang sudah konfirmasi ke panitia daerah (DPMD Provinsi Bengkulu) per tanggal 6 September 2019 sudah mencapai angka 3.110 peserta.

#ttg21bengkulu

Bengkulu - Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Bengkulu mulai mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan event nasional "Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional XXI Tahun 2019", di mana pada tahun 2019 ini Provinsi Bengkulu berkesempatan untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan kegiatan tersebut. Provinsi Bengkulu ditunjuk sebagai tuan rumah kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional (GTTGN) XXI Tahun 2019 secara aklamasi pada saat GTTGN XIX Tahun 2017 yang lalu di Provinsi Sulawesi Tengah, dan ditetapkan secara resmi pada saat GTTGN XX Tahun 2018 di Provinsi Bali.

Kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional ini adalah suatu ajang bergengsi bagi inovator dan penggiat teknologi tepat guna (TTG) di seluruh Indonesia untuk memamerkan karya TTG yang telah berhasil diciptakan ataupun dikembangkan.

Dalam rangka usaha untuk menjadi tuan rumah yang baik, tentunya berbagai persiapan harus dilakukan, termasuk dari Tim Sekretariat Penyelenggara dan Petugas Penghubung (L.O) yang akan ditugaskan pada pelaksanaan kegiatan tersebut. Untuk itu pada Selasa (16 Juli 2019), mulai pukul 9 pagi sampai dengan selesai, telah dilaksanakan Rapat Tim Sekretariat Penyelenggara dan Petugas Penghubung Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional XXI Tahun 2019, yang bertempat di Ruang Pola Pemerintah Provinsi Bengkulu. Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu​, Bapak Drs. Hamka Sabri, M.Si, dengan didampingi oleh Bapak Ardiles Nur, S.STP, M.Si selaku mewakili Kepala Dinas PMD Provinsi Bengkulu, dan Bapak Erik Rizal, S.Sos selaku Kepala Bidang Fasilitasi Pembangunan Desa Dinas PMD Provinsi Bengkulu.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu​, Bapak Drs. Hamka Sabri, M.Si, dengan didampingi oleh Bapak Ardiles Nur, S.STP, M.Si selaku mewakili Kepala Dinas PMD Provinsi Bengkulu, dan Bapak Erik Rizal, S.Sos selaku Kepala Bidang Fasilitasi Pembangunan Desa Dinas PMD Provinsi Bengkulu sebagai pimpinan Rapat Tim Sekretariat Penyelenggara dan Petugas Penghubung Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional XXI Tahun 2019

 

Dalam rapat tersebut, seluruh unsur yang terlibat (baik tim sekretariat penyelenggara dan L.O) menyatakan kesiapannya dalam melaksanakan kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional XXI Tahun 2019. Berdasarkan informasi dari petugas L.O, diperoleh gambaran ada 2 provinsi yang sudah menyatakan kehadirannya dengan total personil 650 orang, yaitu Provinsi Kalimantan Tengah (250 orang) dan Provinsi Papua (400 orang).

 

(hbk)

 

  

  

  

  

DESA KREATIF DAN INOVATIF

Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Undang – Undang  No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa mulai menunjukkan taringnya. Meski masih ada ribuan kepala desa masih pening kepala memikirkan bentuk usaha untuk BUMDesa, beberapa desa sudah melaju kencang dengan kreativitas masing-masing, bahkan jauh hari sebelum isu BUMDesa bergaung seperti saat ini. Namun untuk Propinsi Bengkulu yang memiliki 1341 Desa, berdasarkan data pada tahun  2017 ada 617 bumdes, yang tersebar di 9 kabupaten. Sebagian besar BUMDES yang aktif bergerak disektor jasa penyewaan tenda, prasmanan, kursi, penyaluran sembako, jasa keuangan simpan pinjam, voucer token, pulsa. Sehingga kemajuan BUMDES ini merangkak atau lambat sehingga jika tidak dibina dan memberikan pengetahuan yang cukup lambat laun BUMDES ini akan mati dengan sendirinya seperti program program peningkatan ekonomi lokal yang pernah diluncurkan di pedesaan. Seperti UED –SP, BRDP, dan PNPM.

Kekuatan dana desa jangan dinilai seberapa besarnya yang dialirkan langsung  untuk dimanfaatkan membangun unit usaha BUMDES melainkan karena desa memiliki wewenang sepenuhnya menentukan langkahnya dalam membangun kesejahteraan desa. Transferan dana desa dari pemerintah pusat dan wewenang desa yang kini memliki kekuatan sepenuhnya mengatur kebutuhannya sendiri adalah momentum yang prospektif bagi desa membangun diri.

Peran Kepala desa merupakan kata kunci yang strategis, kepala desa tidak lagi hanya menjalankan topdown kegiatan dari kecamatan, ataupun dari kabupaten selaku pemerintah diatasnya. Melainkan harus berperan sebagai perancang bagi bangunan ekonomi desanya sendiri. Kepala Desa dengan seluruh aparaturnya tidak bisa hanya disibukan dengan berbagai urusan administrasi rutin yang dilaksanakan bertahun tahun hingga habis masa jabatan.

Kepala Desa tidak bisa berpangku tangan dan merasa hebat karena menjadi kepala desa tetapi juga harus mau belajar mengenai kewirausahaan, hal ini untuk menjawab tantangan penggunaan dana desa yang bisa mengarahkan masyarakatnya membangun kemampuan wirausaha.

Kemampuan warga desa ini tidak bisa lahir dan berkembang sendiri, berbagai keterbatasan yang dimiliki  warga desa harus dipecahkan oleh kepala desa serta jajarannya. Salah satunya  dengan membangun unit usaha bernama Badan Usaha Miliki Desa (BUMDES) dan berbagai dukungan terhadap aktifitas UMKM di Desanya.

Kepala Desa  Juga harus mulai paham bahwa pembangunan desa tidak lagi identik  dengan pembangunan fisik melainkan  juga dari masalah pemberdayaan. Selama ini pemberdayaan sering dianggap  agenda nomor 2 setelah fisik. Sehingga seringkali pembangunan fisik  tidak menjawab kebutuhan warga  untuk meningkatkan kesejahteraannya. Paradigma ini harus dirubah karena kini desa harus pula memposisikan dirinya sebagai mesin ekonomi yang efektif bagi warga.

Berikut beberapa contoh desa kreatif untuk menjadi inspirasi kita dalam membangun Desa di Propinsi Bengkulu :

  1. Nusa Tenggara Timur

Di Nusa Tenggara Timur ada desa-desa yang memutuskan untuk memajukan desanya dari sisi pendidikan. Mereka sadar mereka butuh peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan sektor pendidikan adalah pilihan yang penting untuk di sokong. Maka desa-desa itu lalu menggunakan sebagian dananya dan melalui BUMDesa mendukung pendidikan putera-putera daerah. Caranya?

Mereka bekerjasama membangun lembaga bimbingan belajar bagi lulusan SMU didaerahnya sehingga anak – anak sekolah yang akan melanjutkan pendidikan ke universitas memiliki daya saing yang tinggi sesuai dengan pilihan mereka. Dana Desa digunakan untuk membuka lembaga bimbingan belajar bagi anak anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas.

Ide ini muncul karena selama ini para pelajar diwilayah ini harus kepulau jawa demi mendapatkan bimbingan belajar. Akibatnya para orang tua harus menyiapkan biaya besar untuk bimbingan belajar saja. Belum lagi kebutuhan biaya jika kuliah nantinya. Multiplyer efects dari ide kreatif  BUMDES ini :

  • Anak anak muda yang berkeinginan meneruskan jenjang pendidikannya mendapatkan bekal ilmu dan kekayaan intelektuan dari bimbingan belajar ini.
  • Penghematan biaya orang tua yang anaknya ingin kuliah.
  • Warga Desa memiliki akses dalam pendidikan dan informasi kesempatan melanjutkan pendidikan, modal tersebut akan kembali berserta untungnya dalam waktu yang bisa dihitung dan layak menjadi BUMDESA.

 

  1. Sulawesi Selatan

Di Sulawesi selatan, tepatnya Desa Padang Balua Kecamatan Seko walaupun terpencil akan tetapi memiliki prestasi melimpahnya bahan pangan. Desa yang memiliki Bandara ini memiliki tradisi musyawarah pertanian yang disebut MUKOBU, yang membuat seluruh warga menjadi sangat tolerandan pintar mengelola pertaniannya. Meski terpencil Desa ini menghasilkan 930 Ton  hasil pertanian , berlipat lipat banyaknya dibanding kebutuhan  mereka yang hanya memiliki penduduk 300 KK, Hampir setiap KK memiliki Lumbung pangan yang menjamin warga desa ini tidak akan pernah kehabisan bahan pangan.

Selain pertanian, sektor peternakan menjadi andalan desa berpenduduk 1300-an orang ini. Tanah – tanah padang yang terhampar membuat peternakan berkembang dengan makmur. Desa ini memilikipeternakan berisi 805 ekor kerbau, 365 ekor sapi, 175 ekor kuda dan hewan ternak lainnya. Peternakan ini diatur dalam perdes nomor 6 tahun 2008. Peran lembaga adat untuk menjaga keamanan dan kerukunan warga juga berjalan dengan baik di Padang Balua.

Karena kemampuan warganya  yang hebat membangun kemakmuran itulah desa yang selalu dipeluk kabut karena hawa dinginnya ini meraih juara II Lomba Desa Tingkat Nasional 2014.

 

  1. Yogyakarta

Di Desa Wisata Nglanggran, tidak hanya pemuda yang mendapatkan income rutin melainkan juga ratusan warga pemilik warung, rumah sewa, transportasi dan kelompok ibu-ibu rumah tangga pembuat makanan kecil yang kini laris menjual makanannya pada para pengunjung.

Berada di pinggiran Kota Yogyakarta yang ramai anak muda membuat desa ini memiliki ide unik: membuka usaha kuliner dengan memanfaatkan tanah kas desa yang berada di pinggiran jalur Ringroad Selatan. Desa ini memang diuntungkan dari sisi keramaian karena dibelah jalur Ringroad Yogyakarta yang sibuk. Hingga lahirlah Kampung Mataraman.

Luasnya area membuat jalan masuk ke rumah makan ini mirip masuk kampung. Pepohanan rimbun dan lapang. Anda lalu akan disambut beberapa bangunan rumah tradisional desa berupa pendopo besar dan beberapa bangunan berdesain rumah kampung lengkap dengan dinding kayu dan kursi-kursi yang juga tradisional. Para pelayanannya mengenakan pakaian khas Keraton Yogyakarta, lurik dan berjarit bagi yang perempuan.

Menu makanan yang disajikan asli ndeso, seperti sayur lodeh, gudeg, beberapa jenis oseng termasuk oseng pare yang pahit tapi eksotis rasanya. Kita bisa memilih tempe gorang, lele goreng, ayam goreng dan ayam sayur, kesemua menunya merupakan menu keseharian masyarakat yogyakarta.

Wedang jahe, teh hangat, es teh, kopi dengan pilihan gula pasir, gula jawa dan gula aren. Keunggulan lainnya yang sangat dijaga adalah tidak menggunakan bahan kimia dalam pengolahan makanan dan minumannya sehingga kriteria makanan sehat layak ditempelkan dalam daftar menunya.

Suasana yang dihadirkan di Kampung Matraman ini adalah view dan  nuansa alam pedesaan di setiap sudut dari tempat ini. Lesehan pendopo, atau duduk dibawah pohon rindang yang dibawahnya disiapkan meja kursi. Meja kursi kuno atau meja kursi yang dipahat dari batang pohon yang dibawahnya mengalir air kolam ikan yang jernih. Dengan harga yang murah dan terjangkau kantong masyarakat menengah ke bawah.

Desa yang super kreatif, Desa Panggungharjo kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul adalah pemenang No1 Lomba Desa Nasional 2014. Segudang kreatifitas yang dilakukan yaitu transparansi bidang pemerintahan, anti Korupsi, memiliki koran Desa, gratis pemeriksaan Bumil (Ibu Hamil) hingga melahirkan, ambulan Desa, Bank Sampah yang mencetak laba 360 Juta tahun 2014 yang lalu. Kreatifitas ini menghasilkan lapangan kerja bagi masyarakat, menampung hasil pertanian, serta tercipta lingkungan yang bersih.

 

Beberapa fakta di atas menunjukan bagaimana dana desa mampu mendorong kreativitas warga desa menciptakan peluang-peluang pendapatan baru dalam skala yang tidak main-main.

Apakah Bumdes kita di Propinsi Bengkulu akan mengikuti keberhasilan desa desa yang telah berhasil diatas? Ini merupakan tantangan bersama bagi Kepala Desa, Masyarakat, Pendamping Desa, Dinas Pemberdayaan Kabupaten dan Propinsi serta seluruh stakeholder yang terlibat.

Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras, kecerdasan dalam membaca potensi dan peluang di desa adalah modal utama. Mari bersatu tekad menciptakan Desa Maju, mandiri dan sejahtera.

 

 

(Sebuah Kajian, Kepala Bidang Fasilitasi Pembangunan Kawasan, DPMD Provinsi Bengkulu)

Raldes Eka Putra, S.Sos, M.T

NIP. 197112071991011001

Page 1 of 3

Wonderfull Bengkulu

DPMD BENGKULU

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Bengkulu
Jl. Cendana No.18 Bengkulu Tel.0736-21383
website: www.dpmd.bengkuluprov.go.id
e-Mail : dpmd.bengkuluprov@gmail.com

Kunjungan.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree